Cerita Daprut
Judul: Daprut dan Celana Bolong yang Terakhir
Di sebuah kampung kecil di pinggir hutan, tinggal seorang remaja bernama Daprut. Ia dikenal sebagai anak yang ceria, suka bercanda, dan selalu memakai celana bolong yang sama setiap hari.
Orang-orang kampung sering tertawa melihatnya, ada yang mengejek, ada juga yang hanya geleng-geleng kepala. Tapi Daprut tidak pernah marah. Ia selalu bilang:
“Celana ini peninggalan Bapak. Walau bolong, tapi hangat.”
Bapak Daprut sudah lama tiada — pergi saat Daprut masih kelas 3 SD, terkena penyakit yang tak bisa disembuhkan karena biaya berobat tak ada. Sebelum pergi, Bapak memberinya celana itu sambil berkata:
“Kalau kamu sedih, pakai ini. Biar kamu ingat… Bapak pernah ada.”
Sejak hari itu, celana bolong itu jadi satu-satunya peninggalan yang tak pernah ia lepaskan. Meski warnanya pudar, bolongnya makin besar, dan sering ditertawakan, Daprut tetap memakainya dengan bangga.
Setiap malam, Daprut duduk di depan rumah, menatap langit, dan berbicara pada bulan:
“Pak, Daprut udah nggak nangis lagi, kok. Tapi… kangen itu nggak bisa ditahan ya?”
Ibunya bekerja keras sebagai tukang cuci. Kadang dapur kosong, kadang hanya ada nasi dan garam. Tapi Daprut selalu menghibur ibunya:
“Bu, kita kan masih punya senyum.”
Di sekolah, Daprut pintar, tapi sering diasingkan karena bajunya yang lusuh. Pernah suatu kali ia disuruh berdiri di depan kelas karena dianggap "tidak sopan" memakai celana bolong. Tapi ia diam saja. Pulang sekolah, ia hanya bilang pelan ke ibunya:
“Nggak apa-apa, Bu. Nanti Daprut jadi orang sukses, kita beliin celana yang utuh, banyak banget.”
Namun, hidup tidak semudah harapan.
Suatu musim hujan, Ibu Daprut jatuh sakit. Daprut berusaha keras mencari uang: membersihkan kebun, bantu angkut beras, bahkan memulung. Tapi pengobatan butuh biaya besar. Ia bahkan mencoba menjual celana bolong kesayangannya ke pasar loak. Tapi tak ada yang mau beli.
“Mas, ini celana udah mau bubar jalan… siapa yang mau pakai?”
Akhirnya, ia duduk di tepi jalan, menangis pelan. Bukan karena lapar, bukan karena lelah. Tapi karena merasa tak bisa menolong orang yang paling ia sayangi.
Beberapa minggu kemudian, kampung dikejutkan oleh kabar: Ibu Daprut meninggal.
Daprut tidak menangis di depan siapa-siapa. Tapi malam itu, ia duduk di depan rumah, memakai celana bolongnya, dan berbicara pada langit:
“Sekarang, Bapak sama Ibu udah bareng lagi, ya?
Daprut di sini sendirian, tapi nggak apa-apa…
Nanti kalau ketemu lagi, tolong peluk Daprut, ya.”
Sejak hari itu, Daprut jarang bicara. Tapi ia tetap berjuang. Ia belajar keras, bekerja apapun yang bisa ia lakukan. Karena satu hal yang tak pernah ia lupakan adalah janji:
“Suatu hari nanti… aku akan beli celana yang utuh, dan bawa senyum Ibu dan Bapak pulang.”
TAMAT



Mantap eng
BalasHapusSemangat terus
BalasHapusMirip si Bahlil
BalasHapus